Bukan berarti juga menyerah pada keadaan...
Hanya berusaha bersyukur dan menghela menikmati setiap nafas yang tersisa."
(Yuanita D Tresnatias, 2013)
Fakta yang menggelitik setahun lalu, di mana seorang anak SMA yang hampir menghadapi saat kelulusan dihadapi dengan masalah "Galau Masa Depan".
Bukan
berarti sekarang ini si penulis sudah tidak galau. Rasa itu begitu kuat
bermunculan di ubun-ubun sampai hampir tak tega pada diri sendiri untuk
mengingatnya. Tak tega pula pada kedua orang tua, kedua kakak, dan satu
adik keponakan yang rela mengorbankan banyak hal menghadapi diriku
(tepatnya rasa galau yang keterlaluan).
Galau
atau khawatir merupakan suatu kondisi yang wajar bagi seseorang yang
dilanda permasalahan pelik atau dihadapkan pada keharusan mengambil
keputusan besar dalam hidup. (definisi menurutku sendiri)
Mekanisme
pendidikan di negara kita tercinta sekarang ini memang sangat kompleks.
Terutama dalam hal penerimaan Mahasiswa Baru di Perguruan Tinggi Negeri
yang selalu menjadi favorit. Ribuan kursi jenjang Perguruan Tinggi ini
diperebutkan setiap tahunnya oleh puluhan ribu lulusan SMA/SMK/MA atau
sederajat.
Untuk itulah, pasca
menerobos medan 'Ujian Nasional', siswa SMA juga harus fokus pada tahap
selanjutnya. Ke mana mereka akan melangkah? Jika seragam abu itu benar
sudah luntur dan pupus, dengan apa mereka akan menggantinya?
Berseragamkah? Bebaskah? Jas Almamater Perguruan Tinggi mana yang hendak
membalut tubuh gagah mereka setelah berhasil melewati medan perang?
Sayangnya,
kebanyakan siswa SMA tingkat akhir masih belum siap dan mengerti
sepenuhnya mekanisme kompleks yang terjadi di sistem perekrutan
mahasiswa baru. Setiap tahun sistem pendidikan selalu berubah, meskipun
tendensinya adalah untuk kemajuan pendidikan itu sendiri. Namun yang
sering terjadi adalah tambahan beban psikologis dan biaya bagi calon
mahasiswa dan orang tuanya.
Orang
tua seringkali hanya mendukung keinginan positif putra-putri mereka
(dalam hal ini yang dimaksudkan adalah sikap dominan siswa dalam memilih
PT dan jurusan pilihan), atau sikap apatis orang tua terhadap masa
depan anaknya dengan cara memilihkan sendiri PT dan jurusan tanpa
persetujuan sukarela si anak. Tanpa dibekali dengan up-date informasi yang mumpuni tentunya hal ini akan menjadi hal yang merugikan.
Siswa
SMA seringkali memilih PT dan jurusan yang bonafit tanpa
mempertimbangkan dengan matang peluang yang bisa digenggam. Berdasarkan
fakta, Jurusan-jurusan favorit (Kedokteran, Teknik, dan Pendidikan)
selalu bertengger menjadi yang terdepan dalam beberapa tahun terakhir.
Realita
yang terjadi sekarang ini adalah adanya puluhan ribu calon mahasiswa
yang memperebutkan ribuan kursi Perguruan Tinggi Negeri melalui jalur
SNMPTN baik melalui jalur undangan maupun tertulis. Tentunya, kondisi
mental dan fisik yang kondusif harus dipersiapkan dengan matang untuk
menghadapi segala kemungkinan yang terjadi dalam fase peralihan
kehidupan mereka. Sebab, adakalanya seorang lulusan SMA yang tak siap
dan bingung melangkahkan kaki ke mana, ia merasa terhempas dari jeratan,
namun terapung di atas lautan luas tak berpenghuni dan belum bisa
meraba apapun untuk mempertahankan nasibnya. Dukungan dari segenap
keluarga dan guru-guru di SMA baik secara fisik, moril, maupun doa
tentunya sangat dibutuhkan dalam hal ini.
Kondisi
genting tersebut akan berakhir jika lulusan SMA calon mahasiswa itu
diterima melaui SNMPTN jalur undangan yang memang pengumumannya paling
awal di antara seluruh rangkaian penerimaan mahasiswa baru. Namun,
kondisi bisa saja menjadi semakin buruk ketika belum beruntung menapakki
jenjang PT melalui SNMPN Undangan. Jika sudah seperti ini peran serta
orang terdekat amat sangat dibutuhkan untuk mengarahkan pemikiran ke
arah yang lebih positif, dan menghibur calon mahasiswa tersebut. Orang
terdekat tersebut hendaknya dapat menjadi tempat bercerita yang baik dan
memberi motivasi agar semangat bagi si calon mahasiswa dapat terpupuk
kembali.
Layaknya pepatah, "ada
jalan lain menuju Roma", serangkaian tes diselenggarakan untuk
menyeleksi calon mahasiswa. Upaya untuk membesarkan hati dan memupuk
ulang semangat yang mungkin sempat down dan terpuruk salah
satunya adalah melalui Program Bimbingan Belajar. Melaui Bimbingan
Belajar pra-SNMPTN tulis maupun Ujian Mandiri Perguruan Tinggi, calon
mahasiswa dapat berbagi dengan sesamanya yang mengalami nasib serupa,
dan dapat berinteraksi dengan tentor yang ada sehingga secara
psikologis, hal itu dapat menjadi kekuatan yang positif sehingga hasil
tes akademik yang akan dilakukanpun menjadi lebih maksimal. Lain halnya
jika calon mahasiswa tersebut dibiarkan saja belajar secara otodidak di
rumah. Tekanan psikologis tentunya masih sangat kuat terasa, dan hasil
belajarnyapun kurang maksimal atau bahkan tidak memberikan kontribusi
positif saat mengerjakan soal uji tulis SNMPTN maupun UM.
Di
sinilah kembali dibutuhkan peran serta orang tua dan orang terdekat,
karena mereka mengerjakan soal Uji Tulis SNMPTN dengan beban 'masa
depan' di pundaknya, yaitu kondisi di mana ia terpuruk dari seleksi PT
untuk kedua kalinya. Tentunya calon mahasiswa tersebut sangat khawatir
ketika ia tidak bisa seperti teman-temannya lolos ke Perguruan Tinggi
yang diinginkan dan dengan biaya subsidi pendidikan (biaya kuliah murah)
dari pemerintah. Rasa iri terhadap sesama juga dapat memperburuk
suasana mental.
Sesungguhnya
calon mahasiswa tidak udah bingung. Karena seperti pemahaman yang
penulis tahu adalah seperti pada surat Al-Insyirah 5-6.
"Sesungguhnya
dibalik kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai
(dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang
lain dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap."
Di sinilah pemahaman calon mahasiswa mesti diterapkan.
Kenapa aku diberi ujian seberat ini?
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya………. (Al-Baqarah : 286)
Aku Frustasi....!!!!
Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. (Ali Imraan : 139)
Bolehkah aku berputus asa ?
………..dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir. (Yusuf : 87)
Bagaimana cara menghadapi ujian hidup ini?
Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu beruntung. (Ali Imraan : 200) Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu'. (Al-Baqarah : 45)
Bagaimana menguatkan hatiku?
….Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Ilah selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal……. (At-Taubah : 129)
Apa yang kudapat dari semua ujian ini?
Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu'min, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka………. (At-Taubah : 111)
untuk itulah Penulis mengajak siswa-siswa SMA yang lulus tahun ini maupun tahun berikutnya untuk tetap tegar menghadapi hidup yang terus bergulir menurut jalan dan kehendak-Nya.
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya………. (Al-Baqarah : 286)
Aku Frustasi....!!!!
Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. (Ali Imraan : 139)
Bolehkah aku berputus asa ?
………..dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir. (Yusuf : 87)
Bagaimana cara menghadapi ujian hidup ini?
Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu beruntung. (Ali Imraan : 200) Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu'. (Al-Baqarah : 45)
Bagaimana menguatkan hatiku?
….Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Ilah selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal……. (At-Taubah : 129)
Apa yang kudapat dari semua ujian ini?
Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu'min, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka………. (At-Taubah : 111)
untuk itulah Penulis mengajak siswa-siswa SMA yang lulus tahun ini maupun tahun berikutnya untuk tetap tegar menghadapi hidup yang terus bergulir menurut jalan dan kehendak-Nya.
sedikit pengalaman
Penulis juga bukan orang yang seberuntung orang-orang yang lolos
langsung ke PT dengan jalan yang mulus bak jalan tol. Jalanan berliku
yang penuh dengan asam dan pahit telah penulis lalui. Bahkan penulis
sempat bersuudzon dengan yang Maha Memiliki Hidup saat didera
kebingungan memilih pendidikan tinggi. Alhamdulillah Penulis dikuatkan
dengan dukungan keluarga dan sahabat-sahabat sehingga bisa bertahan dan
kembali bersemangat menapakki jalan mimpi yang insya Allah (jika diberi
kesempatan) masih akan menjadi perjalanan panjang menggapai cita-cita.
Meskipun kini penulis berstatus mahasiswi aktif tingkat 1 semester 2
pada sebuah Politeknik Negeri (Program Diploma III), insya Allah
semangat ini akan terjaga dan berpendar... tak lagi semudah itu redup
oleh tiupan angin kencang.
Diploma merupakan
jenjang pendalaman profesi.... Meski lelah dan tertatih, kini dengan
tapak keyakinan, penulis siap melangkah, insya Allah melanjutkan
pendidikan sampai habis. (Sesuai pesan dosen penulis, "Kalau menuntut
ilmu itu baiknya sampai habis. Sekolah itu habisnya sampai S3, Profesor
adalah gelar pengukuhan saja.") dan hal itu sangat terkenang di hati
penulis.
Biarkan saja si
'cebol' ini sempat terpuruk... Sentuhan lembut kasih sayang yang sudah
diberikan orang-orang terdekat penulis akan penulis ubah menjadi
senyuman terindah, dengan ijin Allah SWT. Aamiin... semoga diijinkan..
Mohon support dan doanya agar si 'cebol' ini bisa 'anggagayuh lintang'
aamiin :)
05-05-2013
---yazikaze
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Free Comment :)